Puberty Hit Me, But...
Halo, Geng!
Setelah aku merombak habis tampilan blog ku, aku juga merubah temanya, bukan
hanya berbagi resep, mungkin juga aku
akan berbagi kepada kalian soal tempat makan yang enak, mengenai cerita ku
sendiri, review produk, insyaAllah aku bisa memasukkan semua tema dan
menjadikannya serasi, ga berantakan. Kalau untuk sekarang, aku ingin berbagi
cerita ku sendiri, kalau di lihat dari judul, bagi ku memang terlalu ekstrim
untuk membagikan ini ke kalian, karena aku adalah pribadi yang cukup tertutup,
tapi aku akan coba, agar menjadi motivasi untuk kalian melalui cerita ini.
Aku, Fahira,
adalah pribadi yang sangat tertutup, orang bilang begitu, karena aku lebih suka
jika menghabiskan waktu seorang diri dan sangat memilih jika mencari teman
untuk curhat. Tapi dari aku sendiri, aku bisa mengira bahwa aku seorang ambivert
(gabungan dari introvert dengan ekstrovert) karena walaupun begitu, aku juga
suka dengan keramaian, suka jika melihat orang banyak, dan sedikit heboh saat Bersama
teman-teman. Tetapi, apapun yang orang lain lihat, insyaAllah akan ku jadikan
bahan untuk lebih mengenal diri sendiri.
Kalau soal
perubahan, memang, Fahira yang dulu, sangatlah jauh perbedaannya, entah
perubahan akademik, perubahan fisik, perubahan jasmani dan rohani. Tapi jika
saat pertemuan pertama, yang paling dilihat adalah fisik dulu, kan? InsyaAllah
akan ku gabungkan perubahan-perubahan itu dicerita ini.
Dulu, aku pribadi
yang cukup periang karena diumur yang diangka ke 6-13 tahun, aku masih tumbuh
sebagai anak kecil, main kemanapun sesuka ku, panas ku terjang, hujan ku
jadikan sahabat. Jadi, memang, kulitku bisa dibilang lumayan gelap. Teman-teman
ku bilang seperti itu, seperti mengatai, memang bukan hanya itu, perlakuan
kasar sering ku dapatkan. Mungkin sudah mereka seperti itu, aku memulai, dan
akhirnya juga aku melawan dengan kekuatan ku saat itu, yaitu “jago celetuk”. Jatuhnya
impas, tapi, apakah masuk akal, ayah ku tidak pernah menyakitiku seperti itu,
bagaimana bisa aku menerima jika ada yang melakukan itu kepada ku sendiri,
apalagi jika anaknya adalah perempuan. Tapi apa daya, memang kekuatan lelaki
sudah diakui lebih kuat, dan diakhiri dengan tangisan. Tidak berdampak saat itu
juga, tetapi setelah aku tidak bersua lagi dengan mereka, yang dimana saat aku
sudah lulus sekolah, dan, ya, hamper sekarang. Bukan karena semakin lama aku
semakin benci mereka, saat ini aku tidak memiliki keberanian, apakah aku sudah
cukup berdebat dengan ketakutan ku sendiri. Aku yakin mereka tidak lagi seperti
dulu, karena aku selalu berusaha untuk berpikir positif bahwa, saat itu kami
semua belum dewasa, jadi belum terlalu mengerti soal “respect”. Jadi tinggallah
aku yang mungkin belum cukup dewasa dalam menyikapi ini semua.
Aku sudah
melalui berbagai cara untuk tidak menjadi orang yang berkulit gelpa lagi, dari
menggunakan krim dan memakai masker wajah (karena dulu wawasan ku belum cukup luas),
walaupun aku sadar jika umurku saat itu masih berusia 14 tahun. Segitu nya aku
tidak terima perlakuan mereka, walaupun aku tidak pernah menceritakan kepada
mereka-mereka yang adalah teman dekatku, atau keluarga, karena percuma aku
megeluh jika kau tidak melakukannya. Tetapi aku berhenti menggunakan skincare
saat umur 15 sampai 18/19 tahun, karena aku cukup benci dengan diriku sendiri
yang terlalu termakan dengan kata-kat apromosi visual dan terpaku pada standar
kecantikan di negara ini, yang notabene nya memang standar kecantikan di
Indonesia adalah wanita yang berkulit putih dan bertubuh langsing. Apalagi, aku
masih memikirkan teman-teman lamaku. Berarti, memang, masalah ada pada diriku
sendiri.
Saat memasuki
bangku kuliah, semakin banyak orang yang ku kenal, bertemu dengan wanita-wanita
cantic, sesuai dengan standar itu, merekalah deinisi dari wanita yang tertinggi
dan tidak teritnggal. Sempurna, aku tau mereka pasti banyak disukai orang,
walaupun sebenarnya tidak seperti itu aku seharusnya bepikir.
Aku melakukan
berbagai cara untuk menjadi sama seperti mereka, dari membai baju dengan gaya
terkini, lebih sering membuka internet agar wawasan mengenai gaya berpakaianku
lebih luas, dan belajar untuk berdandan. Karena aku ingin setara dengan mereka,
karena saat itu aku berpikir, jika kau sama seperti mereka, akan banyak orang
yang melihat kea rah ku, sangat-sagat cara yang klasik di tahun 2016, bukan??
Dan aku pun
adalah pribadi yang cukup pemalas, sejak aku tinggal sendiri di kos-kosan dekat
kampus, jadi kemampuan akademik ku kurang memuaskan bagi orang-orang, karena
aku terlalu sibuk dengan urusan penampilan. Karena saat itu aku mulai merubah
cara berpikirku, saat pertemuan pertama selalu fisik yang dilihat pertama kali,
dan ku jadikan itu sebagai prinsip.
Dan seiring
berjalannya waktu, perubahan ku juga semakin pesat, aku bersolek dengan
perlengkapan rias yang lengkap, sampai-sampai banyak juga teman yang sangat
terkejut, se-terkejut itu, karena saat semester awal memang aku sangatlah tidak
rapih, enggak banget lah intinya. Aku senang dengan itu, setelah hidup didalam kerrng,
seolah aku keluar dengan berpakaian penuh Mutiara, dan banyak juga yang terpana
dengan Mutiara itu.
Tetapi dengan
seperti itu, aku terlalu sibuk dengan urusan dunia, aku terlalu mengejar pujian
mereka, dan, ya, perubahan yang ada pada diriku tidak selalu berhasil. Aku mulau
bepikir negative dengan banyak orang , mulai dari aku takut kalah, banyak yang
meremehkanku karena aku bodoh, itulah yang menjadi boomerang pada diriku sendiri.
Aku menjadi kurang sehat secara emosi, karena emosi ku menjadi naik turun. Belajarku
menjadi terganggu. Semakin aku terganggu, semakin sering aku menangis tanpa
sebab, karena akupun sadar, semua yang terjadi pun karena kesalahanku sendiri,
kenapa terlalu mengambil pusing?
Mulailah,
aku semakin berusaha untuk tidak seperti itu, karena, ya, akan tidak baik
nantinya untuk hubunganku dengan orang-orang, dan untukku juga. Terlhat, loh,
jika kamu berpikir negative, bahkan dari wajah sekalipun. Jadinya, aku merubah
diriku dengan perlahan-lahan, aku berusaha unutk mendekatkan diri kepada Allah,
karena dulu memang, ya, aku lupa dengan Tuhan ku sendiri, tak lupa untuk sellau
bersyukur, dan mulailah aku berserah diri bahwa apa saja yang telah Allah
berikan kepadaku memang sesuai dengan batas kemampuanku, sesuai hambanya
masing-masing, tiak kurang an tidak lebih. Karena memang, masing-masing mausia
memiliki porsinya maisng-masing juga.
Sekarang aku
pun mulai malas bersolek, mungkin diantara karena aku malas, aku juga mulai
pusing untuk menggambari alis dan meyamakan warna perona pipi. Karena aku pun
berpikir, cantik dari luar saja tidak cukup, jika akademik pun baik, aku mencintai
pekerjaanku, dan berpikir positi, semua akan terasa mudah dan tidak lah menjadi
stress dan menjadi menua secara dini, tapi ada saat nya nanti aku akan benar-benar
lepas dari riasan, karena memang perubahan itu wajar dalam kehidupan manusia.
Umurku
semakin bertambah, aku sudah semakin tua, sudah mulai menunjukan perubahan-perubahan
kecil, aku tidak ingin melakukan hal yang tidak-tidak, insyaAllah aku ingin
merubah diriku sendiri menjadi yang lebih baik, dan tidak lupa aku mencicilnya
dari sekarang. Inilah yang membuatku benar-benar bahagia lagi. Dan tidak lupa
aku menjadi diri sendiri, menjadi Fahira yang apa adanya, bukan ada apanya.
Terima kasih
untuk yang sudah membaca, kritik dan saran sangat-sangat aku butuh kan dari
kalian. Salam.
Komentar
Posting Komentar
Hai, terima kasih sudah mampir di blog saya. Dalam berkomentar, gunakanlah bahasa yang sopan dan jelas. Jika dirasa ada pertanyaan yang bersifat terlalu privasi, anda bisa bertanya di fahiranurramadhani@gmail.com